ACEH, GlobalNews21.id – Presiden Joko Widodo tiba di Bandara Malikussaleh, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Jumat (10/2/2023).
Kedatangan Presiden disambut Pj. Gubernur Aceh Achmad Marzuki, Pangdam I/Iskandar Muda Mayjen TNI Mohamad Hasan, dan Kapolda Aceh Irjen Ahmad Haydar.
Di Aceh, Presiden melakukan agenda kerja dengan mengunjungi Pasar Batuphat Timur, Kota Lhokseumawe. Di pasar ini Presiden menyerahkan sejumlah bantuan sosial bagi pedagang.
Selepas itu, Presiden menuju pabrik NPK PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) di Kabupaten Aceh Utara untuk meresmikannya. Kemudian Kepala Negara menuju halaman PT PIM untuk menyerahkan kredit usaha rakyat (KUR) 2023 dan meluncurkan kartu tani digital untuk pupuk bersubsidi.
Selanjutnya, Presiden melakukan pertemuan dengan para milenial di Gedung Pertemuan PT Pupuk Iskandar Muda. Sore hari Presiden kembali menuju Kota Medan, Provinsi Sumatra Utara melalui Bandara Malikussaleh.
Presiden mengecek harga-harga sejumlah komoditas di Pasar Batuphat Timur, Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh.
Tiba pukul 08.45 WIB, Presiden yang mengenakan kaus putih lengan panjang langsung menyapa para pedagang. Fahrizal, seorang penjual bahan makanan mengatakan bahwa selain bertanya mengenai kondisi harga, Presiden Jokowi juga membeli barang dagangannya.
“Ada beli tempe Pak Jokowi – Bapak Presiden, ada beli tempe, ada beli cabai. Tempe 20 ribu, ini cabai 2 kilo tadi,” ujar Fahruzal.
Jokowi juga memberikan sejumlah bantuan berupa uang tunai dan sembako kepada para pedagang dan masyarakat di sana. Seperti dikatakan Dewi Sihombing, seorang pedagang buah yang dagangannya dibeli Presiden.
“Alhamdulillah udah dibeli salak kami pedagang kaki lima, dikasih bantuan oleh Bapak Jokowi, terima kasih banyak atas bantuannya,” kata Dewi.
Dewi bercerita, saat Presiden membeli salak yang dia jual, Presiden sempat menawar harga yang telah Dewi tetapkan.
“Ceritanya tadi kan pertamanya dikasih amplop, yang kedua tanya salak ‘yang ini berapa Bu sekilo?’ Yang ini Rp8.000, yang ini Rp15.000. ‘Loh kok mahal sekali, bisa enggak Rp5.000?’, bisa karena sudah dikasih sumbangan alhamdulillah dikasih Rp5.000,” ujarnya.
“Uangnya Rp25.000 enggak usah diambil kembaliannya, dan ini, dan ini, dan ini dikasih lagi,” sambung Dewi.
Kunjungan Presiden ke Pasar Batuphat Timur disambut antusias masyarakat, mulai dari pedagang hingga anak-anak.
“Pak Jokowi, Pak Jokowi,” sorak anak-anak yang membawa bendera merah putih ditangannya.
Mendengar panggilan itu Presiden menghampiri mereka. Al Qusyairi, siswa kelas 5 sekolah dasar yang dihampiri Presiden, mengaku senang bisa meminta tandatangan dan mendapatkan buku dari Presiden Jokowi. “Senang, dapat buku,” ujarnya.
Saat mengecek harga-harga kebutuhan pokok, terdapat seorang pemuda bernama Afrizal Poan yang meminta sepeda kepada Presiden. Dirinya mengaku telah memanggil Presiden sejak ketibaan di jalan depan pasar.
“Dari pinggir jalan tadi bang sudah teriak mau sepeda, mau sepeda,” kata Afrizal.
Merespons itu, Presiden Jokowi memberikan pertanyaan terlebih dahulu kepada Afrizal. “Sebutkan nama-nama ikan (kata Presiden),” cerita Afrizal.
Afrizal mengaku senang bisa mendapatkan sepeda dari Presiden, dirinya mengatakan bahwa sepeda tersebut akan digunakan untuk berolahraga.
“Buat olahraga lah bang jalan-jalan, santai kan,” ucapnya.
Presiden Joko Widodo meyakini bahwa pasar tradisional dapat bersaing dengan pasar modern jika memiliki manajemen yang baik. Hal itu antara lain mencakup kondisi pasar yang bersih dan fasilitas yang memadai sehingga dapat meningkatkan kenyamanan para pembelinya.
“Ya memperbaiki manajemen. Artinya, pasar tradisional harus bersih, tidak kumuh,” ujar Presiden Jokowi dalam keterangannya kepada awak media usai meninjau Pasar Batuphat Timur, Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh.
Presiden menyebut dari sisi persaingan harga, pasar tradisional lebih unggul daripada pasar modern. Hal tersebut dikarenakan pasar tradisional tidak terkena biaya listrik maupun pajak yang tinggi.
“Kalau persaingan harga pasti menang di pasar tradisional karena enggak kena pajak, enggak kena biaya listrik yang tinggi, enggak kena AC, bisa bersaing. Hanya memang perlu manajemen yang baik, penataan barang yang baik, pasar yang bersih, tempat parkir ada. Saya kira semua daerah harus arahnya ke sana,” jelasnya.
Presiden Jokowi berkeliling Pasar Batuphat Timur untuk memantau harga-harga sejumlah komoditas. Menurut Kepala Negara, kondisi harga-harga di pasar tersebut terpantau baik.
“Kalau ke pasar, selalu saya dengan gubernur dan wali kota mengecek urusan harga-harga, mengecek urusan inflasi, mengecek urusan barang dan jasa karena ini penting, dan saya lihat di sini baik,” ungkapnya.
Selain mengecek harga, kedatangan Kepala Negara ke pasar tersebut juga adalah untuk menyerahkan sejumlah bantuan tunai bagi para pedagang. Selain itu, Presiden juga membagikan bantuan sembako.
Selanjutnya, Presiden meresmikan Pabrik NPK PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh.
Dalam sambutannya, Presiden Jokowi mendorong agar kapasitas produksi pabrik pupuk tersebut bisa dimaksimalkan dalam rangka memenuhi kebutuhan pupuk nasional.
“Saya ingin agar kapasitas yang ada di sini 570 ribu ton kali dua berarti 1,14 juta ton itu betul-betul maksimal bisa keluar, sehingga keluhan-keluhan yang ada di petani bisa kita selesaikan,” ujar Presiden.
Presiden juga menyayangkan terhentinya operasional dua pabrik pupuk yang berada di Provinsi Aceh, yakni Asean Aceh Fertilizer dan PIM, karena masalah energi. Untuk itu, Presiden meminta komitmen bersama dari Kementeri Badan Usaha Milik Negara, PT Pupuk Indonesia, serta PT PIM untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan tersebut.
“Saya minta betul-betul komitmen Kementerian BUMN, komitmen Pupuk Indonesia, komitmen di manajemen PIM sendiri betul-betul mencari solusi, mencari jalan keluar untuk urusan gas karena kuncinya ada di situ. Sehingga keluar betul nanti output terpasang sesuai yang kita inginkan 570 ribu ton,” tuturnya.
Menurut Presiden, saat ini ancaman krisis pangan melanda dunia akibat rantai pasok pupuk yang terganggu karena perang di Ukraina serta perubahan iklim.
Oleh karena itu, pemenuhan pupuk di Indonesia juga menjadi terganggu sehingga Presiden mendorong agar masalah tersebut segera diatasi, antara lain dengan pengoperasionalan pabrik pupuk di Aceh.
“Setiap saya masuk ke sawah ketemu petani selalu yang disampaikan adalah, ‘Pak, pupuk enggak ada. Pak pupuk harga tinggi.’ Kalau enggak ada, kalau suplainya turun artinya harga (pupuk) pasti naik otomatis, apalagi yang bersubsidi. Inilah problem besar kita yang harus kita atasi,” kata Presiden.
Presiden juga menyampaikan harapannya agar KEK Arun dapat menjadi kawasan industri hijau dan dapat menarik para investor untuk menanamkan modalnya. Hal tersebut, menurut Presiden, juga akan berpengaruh pada produk domestik regional bruto (PDRB) Aceh.
“Perkiraan Pak Wakil Menteri, Pak Pahala kira-kira bisa mempengaruhi 7 persen PDRB di Aceh. Ini sangat gede sekali. Oleh sebab itu, apa pun caranya aset negara sebesar ini jangan sampai idle, jangan sampai berhenti,” katanya.
Sementara itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir dalam keterangan tertulisnya menyebut bahwa pengoperasian pabrik pupuk khusus NPK ini merupakan komitmen dalam penyediaan pupuk yang strategis dalam ketahanan pangan demi mendukung visi Indonesia Emas 2045.
“Keberadaan pabrik ini diharapkan tak hanya memenuhi sebagian kebutuhan pupuk nasional untuk meningkatkan produktivitas pertanian, tapi juga menjaga stabilitas harga pangan nasional,” ujar Erick.
Kemudian, presiden menyerahkan kredit usaha rakyat (KUR) tahun 2023 sekaligus meluncurkan kartu tani digital untuk pupuk bersubsidi di halaman Stadion PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), Kabupaten Aceh Utara.
Presiden menyampaikan bahwa penyediaan pembiayaan KUR dari Bank Syariah Indonesia (BSI) sebesar Rp3 triliun untuk Provinsi Aceh merupakan angka yang besar untuk meningkatkan perekonomian di Provinsi Aceh.
“Sekarang BSI, Bank Syariah Indonesia untuk seluruh Tanah Air menyediakan Rp14 triliun pembiayaannya, Rp14 triliun dibagi 38 provinsi yang kita miliki. Aceh sendiri dapat gede banget jatahnya 3 triliun rupiah. Gede lho, 14 (triliun rupiah), di Aceh sendiri dijatah Rp3 triliun. Ini juga patut kita syukuri,” ucap Presiden.
Presiden Jokowi menilai bahwa Provinsi Aceh memiliki potensi besar di sejumlah sektor seperti perdagangan, perikanan, pertanian, dan perkebunan. Presiden pun menyayangkan bahwa operasionalisasi sejumlah perusahaan pupuk di provinsi tersebut sempat dihentikan sejak tahun 2005.
“Saat dulu saya bekerja tahun ’85, ’86, ’87, ’88, semua ini hidup, ekonomi Aceh juga kelihatan gerakannya tapi karena gasnya habis tutup semua. Pabrik gede-gede tutup semua. Kalau tutup semua artinya apa? PHK semua. Kalau PHK semuanya artinya apa? Uang yang beredar di masyarakat ini jadi berkurang,” ujar Kepala Negara.
Presiden melanjutkan, peredaran uang di suatu daerah menjadi salah satu faktor penentu pertumbuhan ekonomi. Presiden mengatakan bahwa dengan adanya penyediaan pembiayaan KUR tersebut, Provinsi Aceh dapat memperkuat dan mengembangan perekonomian.
“Ekonomi akan tumbuh kalau sebuah negara, atau sebuah provinsi, atau sebuah daerah itu peredaran uangnya makin banyak. Sehingga kalau tadi dijatah oleh Pak Dirut Rp3 triliun itu akan men-trigger, memperkuat, mengembangkan ekonomi di Aceh,” ucap Presiden.
Lebih lanjut, Kepala Negara menuturkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Provinsi Aceh pada tahun 2022 sudah tumbuh menjadi 4,21 persen. Presiden mengatakan bahwa hal tersebut juga patut untuk disyukuri.
“Kita juga patut bersyukur alhamdulillah di 2020 di Aceh ekonomi tumbuhnya minus, minusnya 0,37 (persen) dan tahun kemarin 2022 ekonomi Aceh sudah tumbuh plus 4,21 (persen). Ini patut kita syukuri, jangan lupa bersyukur, jangan lupa nikmat yang diberikan Allah pada kita dari minus 0,3 (persen) menjadi plus 4,2 (persen). Sekali lagi ini patut kita syukuri,” tutur Kepala Negara.
Saat menyerahkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Syariah Indonesia (BSI) Presiden berkesempatan berdialog dengan para penerima KUR sekaligus mengingatkan masyarakat untuk bijak dan disiplin setelah mendapatkan pembiayaan KUR.
“Saya titip kalau dapat pembiayaan seperti itu jangan tergesa-gesa, meskipun untungnya jelas jangan tergesa-gesa untuk mencari hal-hal yang memberikan kenikmatan, beli mobil, belum punya motor beli motor. Ngerem dulu, nanti kalau keuntungannya sudah banyak dikumpulkan,” ucap Presiden.
Pada kesempatan tersebut, Presiden mengajak untuk berdialog dan menawarkan hadiah sepeda untuk penerima KUR. Salah satunya Duma, seorang wanita penjual jilbab dan makanan cepat saji mengaku mendapatkan pembiayaan KUR sebesar Rp300 juta. Presiden pun mengingatkan untuk mencatat segala bentuk pengeluaran biaya secara detail.
“Pencatatan itu penting jadi pengeluaran harian itu berapa, di sini penjualan berapa kemudian untung berapa. Meskipun pakai buku sederhana tapi harus tercatat,” ucap Presiden.
Presiden juga sempat berdialog dengan Zulhelmi, seorang pengusaha pupuk yang juga merupakan penerima pembiayaan KUR sebesar Rp100 juta.
“Hitung-hitungannya insyaallah bisa ya?” tanya Presiden.
“Sangat bisa Pak, sangat untung,” ucap Zul dengan penuh keyakinan.
Presiden pun mengapresiasi jawaban Zulhelmi atas rasa optimistis setelah menerima pembiayaan oleh BSI.
“Sangat bisa, gitu lho, sangat bisa. Harus dijawab gitu ‘Sangat bisa Pak’ nyicilnya 2 juta ‘Sangat bisa Pak’ jangan ‘Waduh iya Pak, nggak tau Pak ya’ Ini sudah diberi pembiayaan oleh BSI tidak yakin bahwa bisa mengangsur setiap bulannya, harus yakin, yang namanya usaha itu harus yakin,” tutur Presiden.
Presiden pun segera menyerahkan hadiah sepeda kepada Zulhelmi. Presiden menuturkan bahwa sepeda tersebut dapat dijual untuk membeli mobil.
“Sepeda ini kalau dijual mungkin bisa untuk beli mobil lho. Itu ada tulisannya di situ di bawah ‘Presiden Jokowi’ itu mahal itu, yang mahal bukan sepedanya, tulisannya,” ucap Presiden disambut gelak tawa masyarakat.
Selanjutnya, Presiden Jokowi berdialog dengan seorang pengusaha bengkel mobil bernama Nasir yang mendapatkan pembiayaan oleh BSI sebesar Rp400 juta. Setelah berdialog, Nasir mendapatkan hadiah sepeda dari Presiden.
“Terima kasih Pak Nasir, sepedanya diambil,” ujar Presiden.
“Maaf Pak, dari semalam saya bermimpi untuk foto bareng Pak Presiden,” tutur Nasir.
“Sudah dapat sepeda masih minta bonus foto, ya sudah sini, berikan. Dapat sepeda, dapat foto dengan Presiden,” jawab Kepala Negara dengan penuh canda. (GN21-Red)

