24.6 C
New York
Selasa, Juni 30, 2026

Buy now

spot_img

DPW PWDPI Soroti Maraknya SPA “Plus-plus” di Medan, Minta Wali Kota Rico Waas Turun Tangan

GLOBALNEWS21.ID – Medan — Dugaan praktik prostitusi berkedok tempat pijat (SPA) kembali mencoreng citra Kota Medan. Sejumlah tempat usaha yang beroperasi di kawasan Komplek Makro Bisnis Center, Jalan Gatot Subroto, diduga kuat menjadi lokasi praktik asusila. Masyarakat pun menilai Pemerintah Kota Medan seakan menutup mata terhadap fenomena ini.

Sorotan tajam datang dari Dewan Pimpinan Wilayah Persatuan Wartawan Duta Pena Indonesia (DPW PWDPI) Sumatera Utara. Organisasi ini menerima banyak laporan dari masyarakat yang resah atas menjamurnya praktik prostitusi terselubung di berbagai SPA.

spa
Ket Gbr : Contoh Price List

Menurut Ketua DPW PWDPI Sumut Dinatal Lumbantobing, SH, praktik prostitusi di sejumlah SPA sudah menjadi rahasia umum. Banyak pengusaha SPA disebut telah mengantongi izin resmi, namun kenyataannya izin tersebut disalahgunakan untuk kegiatan prostitusi.kepada wartawan,Kamis (9;10/2025)

“Kami minta Wali Kota Medan, Rico Waas, memberi atensi serius dan menindak tegas para pelaku usaha SPA yang berkedok pijat tetapi melayani praktik asusila. Ini harus menjadi perhatian serius Pemkot Medan,” ujar Dinatal Lumbantobing,

Ia juga mendesak agar Pemkot Medan segera melakukan inspeksi mendadak dan menutup tempat-tempat usaha yang terbukti melanggar ketentuan perizinan. DPW PWDPI mengaku siap memberikan bukti-bukti serta mendampingi tim Pemkot ke lapangan.

“Kami memiliki sejumlah bukti dan kesaksian dari masyarakat. Bahkan ada yang bersedia menjadi narasumber untuk membongkar modus operandi praktik prostitusi di balik usaha SPA ini,” tambahnya.

Tambahanya,belasan ruko yang ada di komplek Makro Bisnis Center Jalan Gatot Suberoto Kelurahan Lalalng Kecamatan Medan Sunggal,disulap diduga  menjadi tempat Prostitusi berkedok SPA Lulur sudah berlangsung tahuunan kendati telah berulang kali di komplein masyarakat

Ironisnya ,namun bukan menjadi tempat pijit,SPA tersebut menyedikan sebagai trapis gadis-gadis muda belasan tahun guna dijadikan pemuas nafsu para lelaki hidung belang dan SPA ini sepertinya tidak dapat tersentuh hukum sudah sejak kepemimpinan Wali Kota ,Bobby Nasution hingga sekarang

spa
Ket Gbr : Terbukti SPA Yang Berada di Komplek Makro Center Telah Digeruduk Para Pendemo Dari Aliansi Mahasiswa dan Ormas Pada Tahun 2023.

Parahnya ,para gadis-gadis muda yang direkrut  bekerja sebagai trapis di SPA ini dari berbagai daerah maupun di luar provinsi Sumut,mereka mengaku terjebak dalam perjanjian kontrak kerja dengan pihak maneger yang awalnya diiming-iming pekerjaannya di suatu perushaan atau kantor

Salah satu narasumber mengungkapkan pengalamannya saat mengunjungi salah satu SPA di kawasan tersebut. Ia mengaku ditawari berbagai paket layanan, mulai dari pijat biasa hingga layanan khusus dengan tarif yang bervariasi.

“Receptionist menawarkan paket 1, 2, hingga 3 jam. SOP layanannya ada tiga paket, termasuk PVM dan mandi dalam kondisi bugil. Setelah memilih terapis, harga dinegosiasikan antara Rp300 ribu hingga Rp500 ribu,” ungkap narasumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Lebih jauh, narasumber mengaku telah menjadi pelanggan tetap dan mengetahui pola praktik yang dilakukan di tempat tersebut.

“Reception itu menawarkan kepada saya dan menunjukkan foto para trapis yang sesuai selera tamu, mulai umur belasan sampai umur dua puluhan dan asal dari provinsinya,jadi  kalau ada SPA yang bilang tidak ada layanan plus-plus, itu bohong,” ujarnya.

 Ia menambahkan bahwa tidak ada jaminan kesehatan bagi terapis maupun pengunjung, padahal ada risiko penyakit menular seperti TBC dan HIV/AIDS.

Seorang terapis yang ditemui terpisah juga mengungkapkan tidak adanya perlindungan jaminan sosial dari perusahaan tempatnya bekerja dan merasa terjebak.

“Sebenarnya kami tidak mau bekerja seperti ini,awalnya ditawarkan bekerja di perusahaan atau kantoran bukan di SPA,.tapi karena tidak ada pilihan terpaksalah bang .Untuk BPJS Tenaga Kerja tidak ada, hanya BPJS Kesehatan pribadi. Gaji pokok sekitar Rp1,5 juta. Kalau tamu mencapai 100 orang sebulan, kami baru dapat tambahan Rp2,5 juta,” ungkapnya.

Namun, salah satu pengelola  Miles SPA yang diwakili oleh Erik membantah keras tudingan adanya praktik prostitusi di tempatnya. Ia mengklaim seluruh karyawan telah memiliki BPJS

“Boleh kau cek,mungkin satu-satunya SPA yang ada BPJS karyawan itu di tempat kita dan ada ratusan SPA dikota medan ini nanti kalau saya kirim nama-nama SPAnya,kalau mau dibuat beritanya sebutkan semua nama SPA itu ya”jelas Eric

Eric membantah konfirmasi kepada dirinya seolah-olah pemberitaan tersebut hanya memojokkan SPAnya

“Kenapa hanya saya saja yang dikonfirmasi kan banyak pengusaha atau pengawas SPA,supaya kesannya tidak tebang pilih dalam hal membuat berita”ungkap Eric

Diketahui bahwa pantauan dilakukan di delapan SPA yang berada di lokasi Komplek Makro dan kedelapan SPA ersebut pemiliknya hanya ada 3 atau 4 orang, salah satunya Miles  SPA

Berdasarkan pantauan tim DPW PWDPI Sumut di lokasi, terdapat sedikitnya delapan SPA yang beroperasi di kawasan Komplek Makro, yaitu Hilton SPA, Romance SPA, Orchard SPA, Merlion SPA, Star 1, Milenial SPA, Miles SPA, dan Lion SPA. Seluruhnya kini menjadi sorotan publik.

DPW PWDPI Sumut berharap langkah tegas dari Pemkot Medan dan aparat penegak hukum segera dilakukan agar praktik serupa tidak terus merusak citra kota dan meresahkan masyarakat.( Novi)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
890PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Latest Articles