27.7 C
New York
Jumat, Juli 24, 2026

Buy now

spot_img

Taruna Akmil Dituduh Aniaya Mahasiswa, Orangtua: Tidak Benar

MEDAN, GLOBALNEWS21.ID – Kompol Zulkarnain orangtua MZE, Taruna Akmil yang dituduh menganiaya mahasiswa UISU, TSA di Medan membantahnya, Rabu (15/3/2023).

“Tuduhan itu tidak benar. Yang memukul TSA adalah adik kandung MZE, yakni ZZ, Bukan MZE,” bantah Zulkarnain.

Kata Zulkarnain bahwa pelaku penganiayaan bukan MZE, melainkan adiknya ZZ,” katanya kepada wartawan.

Diakuinya, MZE memang berada di lokasi saat kejadian pemukulan terhadap TSA, namun MZE tidak ikut memukul melainkan melerai dan menarik ZZ yang sedang berantam ketika itu.

“Dari kejadian ini saya selaku orangtua dari MZE saya tegaskan tuduhan itu tidak benar, itu Fitnah. Biarlah laporan ini berjalan dan saya serahkan kepada Polrestabes Medan dan Denpom 1/5 Medan agar jelas kejadian yang dituduhkan mereka tidak benar,” katanya.

“Anak saya ini saling kenal dan pernah satu sekolah dengan korban saat masih duduk di bangku SMP,” katanya lagi.

Zulkarnain juga mengatakan banyak pemberitaan yang keliru sehingga menimbulkan kontroversi.

Kepada wartawan Rabu (15/3/2023), Zulkarnain mengatakan, MZE yang saat ini menempuh pendidikan di Akademi Militer bahwa anaknya yang diberitakan di sejumlah media sudah sangat keliru dan menimbulkan kontroversi.

Karenanya, Zulkarnain merasa kesal lantaran anaknya sudah dituduh menjadi pelaku kekerasan terhadap yang mengaku menjadi korban kekerasan TSA sudah salah, dan tidak ada bukti bahwa MZE telah melakukan kejahatan.

Zulkarnain menilai sepertinya ada “permainan” untuk menyudutkan anaknya MZE dengan upaya mengganggu karirnya di Akademi Militer (Akmil).

“Selaku orang tua, saya berharap tetap melakukan yang terbaik dengan hati yang bersih. Dan harapan saya agar semua yang terjadi menjadi suatu adanya upaya damai, karena kita menilai ini adalah suatu kenakalan remaja,” tukas Zulkarnain.

Ditambahkannya bahwa sebenarnya yang melakukan pemukulan tersebut adalah anaknya yang satu lagi inisial ZZ.

Peristiwa tersebut sudah sangat membuat orang tua MZE terpukul, karena anaknya sebenarnya saat kejadian hanya melerai dan tidak ada melakukan kekerasan terhadap anak dari Dokter itu.

“Diduga anak saya ZZ yang melakukan hal tersebut, bukan anak saya MZE, ini adalah kenakalan remaja, jadi tolong diklarifikasi untuk menghindari berita-berita hoaks dan tidak terbukti kebenarannya,” urai Zulkarnain.

Ditegaskannya, sudah pernah ada kesepakatan untuk upaya damai, namun hingga saat ini tidak menemui titik terang, karena ada isu bahwa korban meminta sejumlah uang yang diduga sebesar Rp300 juta.

Sementara, Faturachman Aulia, penengah permasalahan mengatakan sudah ada kata perdamaian secara lisan, dan mau menerima uang sebesar Rp15 juta, namun entah kenapa pada saat selesai pertemuan, keesokan harinya pihak keluarga korban menolak dan diduga meminta uang sebesar Rp300 juta.

“Sudah kita upayakan jalan untuk berdamai dan kita sudah mau memberikan uang damai sebanyak lima belas juta rupiah, tapi entah kenapa mereka malah berubah pikiran, dan meminta uang sebanyak diatas seratus juta rupiah,” tutur Faturachman Aulia.

Sebelumnya diberitakan TSA mengadu ke Denpom 1/5 Medan Jalan Suprapto, Kota Medan. Ia mengaku dianiaya MZE pada Sabtu (18/3/2023) sekitar pukul 23.00 WIB.

Saat itu, ia mengendarai mobil bersama dua teman perempuannya melewati pintu keluar Komplek Tasbi I, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal.

“Tak lama saya dipukul oleh dua orang. Salah satunya MZE. Luka yang saya dapati di pelipis mata sampai mendapat empat jahitan. Lebam di beberapa bagian wajah dan bibir saya pecah,” ujar TSA di salah satu pemberitaan.

Berangkat dari peristiwa itu, membuat laporan ke Denpom 1/5 Medan dengan nomor laporan: LP/30/II/2023 pada 21 Februari 2023.

Secara terpisah, Komandan Datasemen Polisi Militer (Dandenpom) I/5 Medan, Letkol Cpm Dahri Haji Dahlan mengatakan telah memproses laporan TSA tersebut.

“Kini laporan itu masih diselidiki,” kata Dahri kepada wartawan.

Ia mengatakan pihaknya telah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Camera CCTV di sekitar lokasi serta tujuh saksi sudah diperiksa.

“Pengakuan pelapor, ia dianiaya oleh terlapor MZE. Keterangan itu kan harus diuji. Ternyata saat itu ada dua perempuan teman pelapor. Tapi sampai kini, keduanya belum memberikan kesaksian,” ujarnya.

“Sebab dari keterangan tujuh saksi yang sudah kita periksa, pelaku yang memukul pelapor adalah adiknya MZE,” terangnya.

Oleh karena itu, pihaknya masih berusaha untuk menghubungi dua saksi perempuan yang bersama TSA saat kejadian. Sehingga pihaknya masih mengumpulkan alat bukti. (GN21-Red)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
893PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Latest Articles