Labura, GlobalNews21.net | Bantuan pembangunan Rumah Tak Layak Huni (RTLH) di Desa Parpaudangan Kec. Kualuh Hulu Kab. Labuhanbatu Utara sempat menjadi perbincangan di kalangan masyarakat sekitar. Pasalnya, para penerima pembangunan RTLH itu masih mengularkan kocek yang bisa dikata lumayan banyak untuk membeli barang – barang bangunan bahkan ongkos tukang.
Baca juga:
Kapoldasu: Kapolrestabes Medan Tak Terbukti Terima Suap
Berdasarkan investigasi tim media ke beberapa penerima bantuan pembangunan RTLH warga diantaranya Usup (41), Lasinem (61) dan Triono (40).
yang berada di desa Parpaudangan Kec. Kualuh Hulu Kab. Labura, Sabtu (22/1).

Dari konfirmasi tersebut tampak jelas pembangunan tersebut tidak maksimal, dan terlihat juga dibeberapa bagian bangunan menggunakan bahan – bahan bekas. Diduga dari bahan-bahan bongkaran dari rumah sebelumnya.
Seperti yang terlihat pada rumah Usup (42), terlihat adanya kamar yang belum selesai di lantai, dan pemasangan untuk atap seng sebagian terpasang dengan memakai seng bekas bongkaran rumah sebelumnya yang sudah berkarat sebanyak 7 lembar.
Menurut keterangan Usup mengatakan kepada tem media, “Saya gak ada menambah ukuran rumah, padahal ukuran rumah yg mau dibangun sesuai ukuran rumah yang diminta Volume yang diminta 6X5 meter, kalau mengenai seng bekas yang terpasang itu, karena jatah dari orang itu tidak mencukupi makanya disisip dengan seng bekas bongkaran rumah lama Saya makanya sengnya berkarat,” ucapnya kepada awak media.
Ditambahnya,”kalau untuk bahan kayu jatah yang saya terima untuk ukuran 2×2 inci sebanyak 7 batang, kayu 2×4 inci yang saya terima sebanyak kurang lebih 6 batang.”
“Bahkan untuk kebutuhan kayu ukuran 2×3 inci sebanyak 10 batang, itu saya yang beli sendiri, Karna dari orang itu tidak ada dikasi, Padahal rumah yang dibangun ini tidak ada menambah ukuran bangunan sesuai dengan yang ditetapkan 6×5 M,” jelasnya.
Tim berlanjut mengkonfirmasi pembangunan RTLH penerima atas nama Lasinem (61) di hari yang sama Sabtu (22/1). Terlihat bagian pemasangan tombak layar atau tutup keong dibagian sisi kanan rumah dipasang dengan tidak menggunakan batu bata melainkan dengan papan bekas, dan seng bekas, namun dibagian sisi kiri dipasang pakai batu bata.
Bukan hanya itu 13 seng bekas yang sudah berkarat terlihat terpasang di atap rumah tersebut, dan daun jendela tidak pakai engsel juga Grendel sehingga dipaku agar jendela dapat tertutup, pintu juga tidak ada dipasang kuncinya.
Dan terlihat lagi, dibagian dinding batu atas depan rumah dipasang penutup dengan papan bekas dan seng bekas sehingga terlihat pengerjaannya serampangan atau tidak profesional.
Lasinem (61) saat dimintai keterangan oleh tim media dirumah yang disewanya mengatakan,”Saya perempuan tak paham pak apalagi umur sudah tua begini, masalah bantuan ini seperti itulah keadaanya, ini saja saya sudah 3 Bulan menyewa rumah dari semenjak dibongkarnya rumah saya itu.”
“Karna tidak siap-siap dikerjakan terpaksalah saya disini dulu, Padahal saya juga sudah habis banyak pengeluaran untuk biaya tambahan, membeli semen untuk melantai rumah, Karna jatah semen yang diberikan cuman 35 shak yang dikasi, membelikan pasir lagi sebanyak 1 pickup,” urainya kepada awak media.
“Bukan hanya itu paku pun saya harus beli sebanyak 5 kilo, bahkan saya disuruh menyediakan tambahan uang untuk ongkos tukang sebanyak Rp. 2.000.000,” paparnya.
“Karena ongkos tukang globalnya saya kena hampir Rp. 6.000.000,-. Padahal uang tukang yang dikasih cuman hanya 4 juta sampai siap makanya saya menambahi Rp. 2.000.000,- lagi supaya cukup bayar ongkos tukang,” cerita Lasinem.
Diungkapnya,”Sampai-sampai saya terpaksa utang kesana kemari, sementara pekerjaan saya hanya mencari sapu lidi, berapa sih penghasilannya jumlah uang segitu sangat besar bagi saya.”
“Saya tinggal sendiri di rumah, anak saya jauh-jauh, akibat pembangunan ini, terpaksalh saya membayar rumah sewa di tempat tetangga dan sampai sekarang masih menyewa sudah hampir 3 bulan ini. Sampai saat ini saya belum menempati rumah itu, Karna rumah itu pintu, jendela belum dipasang kuncinya” jelasnya hingga terlinang air mata.
Sementara itu, belum ada keterangan resmi dari pihak kontraktor atau Dinas terkait dengan adanya informasi keluhan dan derita dari warga pada saat awak media di lapangan.
(Ricky/Tim)

